Langkah Kecil, Dampak Besar: Memberdayakan Pengrajin Alas Kaki Lewat Inovasi Prototipe

Bandung – Desember 2025. Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, dengan kontribusi mencapai 60,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Di Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Bojongmalaka, yang memiliki potensi besar dalam inovasi dan kreasi produk. Namun, para pengrajin ini menghadapi tantangan klasik, bagaimana meningkatkan daya jual di tengah keterbatasan modal dan waktu.

Meskipun memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, para pengrajin di sering kali kesulitan mendapatkan pesanan baru karena minimnya prototipe (sampling) produk yang bisa ditunjukkan kepada calon pembeli. Sebagian besar pengrajin hanya fokus pada produksi massal dan terbentur biaya serta waktu untuk melakukan riset desain sendiri. Padahal, proses sampling sangat krusial untuk menguji kecocokan material dan desain sebelum diproduksi secara luas guna mengurangi risiko kegagalan di pasar.

Melihat urgensi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Telkom University hadir membawa solusi melalui pendekatan desain partisipatif. Program ini tidak hanya memberikan bantuan teknis, tetapi juga melibatkan pengrajin secara aktif dalam setiap tahap pengembangan produk, mulai dari identifikasi masalah hingga pembuatan hasil akhir.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan selama enam bulan meliputi:

  1. Observasi dan Identifikasi: Memetakan kebutuhan stakeholder dan material yang tersedia di lapangan.
  2. Focus Group Discussion (FGD): Berdiskusi secara mendalam untuk menyepakati jenis produk yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar dan kemampuan produksi pengrajin.
  3. Ideasi dan Prototyping: Merancang sketsa, membuat mock-up, hingga memproduksi prototipe fisik.

 

Program ini berhasil melahirkan dua jenis prototipe sepatu baru yang dirancang khusus menggunakan teknik produksi dan material yang sudah dimiliki oleh pengrajin lokal. Hal ini memastikan bahwa produk tersebut tidak hanya estetis, tetapi juga sangat mungkin untuk diproduksi secara mandiri oleh komunitas.

Dampak dari kegiatan ini sangat positif. Berdasarkan survei umpan balik, 100% peserta menyatakan sangat setuju bahwa materi kegiatan sesuai dengan kebutuhan mereka dan berharap program seperti ini dapat dilanjutkan di masa depan. Selain menghasilkan produk fisik, pengabdian ini juga membantu dalam pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan desain industri bagi para pengrajin.

Melalui pengembangan produk yang terstruktur, diharapkan pengrajin di Desa Bojongmalaka dapat lebih percaya diri saat berhadapan dengan pembeli (buyer) karena sudah memiliki “senjata” berupa prototipe produk yang kompetitif. Penguatan pada aspek sampling ini menjadi jangkar bagi keberlanjutan wirausaha dan kemandirian ekonomi masyarakat sekitar secara jangka panjang.

Kegiatan ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat dan kolaborasi antara akademisi serta komunitas lokal, industri kreatif alas kaki Indonesia dapat terus melangkah lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *