Action Figure Jadi Jembatan Budaya: Telkom University Perkenalkan Ulin Barong Sekeloa ke Anak Usia Dini

Bandung, 19 November 2025 – Dalam upaya melestarikan kesenian tradisional yang kian berkurang eksistensinya, Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tahun pendanaan 2025 menghadirkan pendekatan kreatif berbasis desain dan media edukasi. Kali ini, Fakultas Industri Kreatif Telkom University bersama mitra Raksa Panghegar meluncurkan program berjudul “Implementasi Media Edukasi Action Figure untuk Pengenalan Budaya dan Seni Ulin Barong Sekeloa”. 

PISN (Program Inovasi Seni Nusantara) adalah program pengabdian masyarakat yang dinaungi oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong inovasi seni agar berdampak nyata di komunitas.  

Program ini merupakan respons atas tantangan yang dihadapi oleh Kelompok Seni Raksa Panghegar di Jl. Tubagus Ismail Bawah No.2, Lebakgede, Coblong, Kota Bandung. Meski aktif melestarikan Ulin Barong, kesenian tradisional berbasis boneka kayu yang khas dari kawasan Sekeloa, kelompok ini kesulitan menjangkau generasi muda, terutama anak usia dini di luar wilayah asalnya. Minimnya media edukasi dan dokumentasi digital membuat eksistensi kesenian ini terancam punah di tengah arus budaya pop yang mendominasi. 

Dipimpin oleh Chris Chalik sebagai ketua tim, program ini melibatkan Martiyadi Nurhidayat, Adrian Permana Zen, Nurul Fitriana Bahri, serta tiga mahasiswa Telkom University. Mereka menghadirkan action figure Ulin Barong Sekeloa sebagai media edukasi yang ramah anak dan kontekstual dengan dunia prasekolah. 

“Kami merancang action figure ini bukan sekadar mainan, tetapi sebagai ‘jembatan identitas budaya’ yang bisa menyentuh anak-anak sejak dini,” kata Chris Chalik. 

Uji Coba di TK Telkom Buah Batu Jadi Titik Awal 

Pada Jumat, 7 November 2025, tim menggelar kegiatan perkenalan di TK Telkom Buah Batu, Kota Bandung. Acara yang berlangsung pagi hari ini menggabungkan pertunjukan Barong langsung, sosialisasi media edukasi, dan uji coba interaktif action figure bersama anak-anak dan guru. Hasil awal menunjukkan antusiasme tinggi, dengan lebih dari 80% anak mampu mengenali karakter Ulin Barong setelah bermain, salah satu indikator keberhasilan utama program. 

Desain action figure dikembangkan melalui metode SCAMPER, yang memadukan bentuk tradisional dengan pertimbangan ergonomi, keamanan, dan daya tarik visual bagi anak usia 3–6 tahun. 

Digitalisasi dan Penguatan Strategi Komunitas 

Selain media edukasi, program ini juga menjawab tantangan lain, lemahnya dokumentasi dan publikasi digital Raksa Panghegar. Pada Sabtu, 15 November 2025, tim menyelenggarakan Workshop Produksi Konten dan Manajemen Produk Kreatif di Lapangan RW 01, Lebakgede. Acara ini menghadirkan dua sesi utama: 

  1. Manajemen produksi & distribusi: Pelatihan strategi produksi terukur, perencanaan merchandise turunan, serta pendampingan pemasaran melalui e-commerce dan jejaring sekolah.  
  2. Digitalisasi seni tradisi: Produksi konten visual (foto, video pendek, animasi edukatif) yang memanfaatkan action figure sebagai tokoh utama, lalu diunggah ke laman Instagram resmi Raksa Panghegar. 

Langkah Strategis Menuju Keberlanjutan Budaya 

Dengan pendekatan multidimensi, desain produk, edukasi anak usia dini, digitalisasi, dan penguatan kapasitas komunitas, program ini tidak hanya memperkenalkan Ulin Barong Sekeloa, tetapi juga memberdayakan Raksa Panghegar sebagai pelaku budaya yang mandiri dan adaptif. 

“Kami ingin Ulin Barong tidak hanya hidup di panggung, tapi juga di genggaman anak-anak, di layar ponsel, dan di hati masyarakat luas,” tutup Chris Chalik. 

Melalui inovasi yang berakar pada tradisi, Telkom University membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, relevan, dan berkelanjutan. 

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Ruas yang wajib ditandai *